Showing posts with label tarian pena. Show all posts
Showing posts with label tarian pena. Show all posts

Monday, January 25, 2016

Menunggu Hati

Aku akan tetap disini
Membeku seperti mati
Menangis dalam sunyi
Menikmati detik abadi
Menunggumu yang tak pasti

Aku bukannya tuli
Hanya sedang memperjuangkan hati
Tak perlu kau kasihani
Sungguh harapku masih tinggi
Hadirmu akan ada lagi
Entah untuk kembali

Atau sekedar pamit pergi

Thursday, March 28, 2013

bagian yang hilang


Aku harus melakukan ini. Mencari tahu sendiri, membaca sendiri dan menangis sendiri. Karena aku tahu, lelaki tak akan buka mulut lebar-lebar untuk mendongengkan kisah lalunya.

Aku harus membongkar ini. Melewati batas privasi diantara kita. Kau tak suka? kau yang memilih bungkam dan memaksaku mencari tahu sendiri.

Rasa penasaran memang sangat membahayakan. Namun, bagaimana aku bisa hidup denganmu di masa depan? Bila aku saja tak tahu masa lalumu.

Tenang saja, aku tidak akan memberi akhir cerita cinta kita. Lebih baik aku menangis sekarang karena rahasia itu daripada aku harus bertampang tolol dihadapanmu tanpa tahu apa-apa. Itu bukan lugu, hanya saja terlalu bodoh.

Fakta masa lalu takkan mengubah perasaanku padamu. Hanya saja aku menyesal. Kupikir dia adalah teman baikmu. Nyatanya? Lebih sekedar teman! Atau mungkin kalian bilang hubungan adik-kakak tanpa pertalian darah? Wow, sangat spesial hingga aku tak sadar memberi kepercayaan itu ke kalian. Baguslah, sekarang, aku tahu hubungan kalian. Semoga saja kalimat-tak-lumrah yang dulu kau ucapkan, kini, tak kau ketik kembali.

Aku menangis, entah karena itu bahagia mengetahui semuanya atau karena terlalu menyakitkan fakta yang ada. Mungkin bagimu  ini adalah yang tak penting dan hanya membuang waktu saja bila membahasnya. Itu untukmu, bukan untukku. Kau pikir ini tak berarti karena ini adalah masa lalu yang sudah kelewat basi dan malas untuk membahasnya. Coba ubah sudut pandangmu bila menjadi aku. Ini adalah masa lalu yang berarti karena aku akan menjadi masa depanmu,

Masih adakah lembaran-lembaran kisah lain yang kau simpan kertasnya?
Ceritakanlah, bukankah aku yang selama ini menjadi penampung ceritamu?
Percayalah, bukankah kita telah mengikrarkan janji percaya satu sama lain?
Bila alasanmu tak mau membeberkan semuanya karena malu. bukankah itu berarti kau menyimpan perasaan pada kisah lalu mu?

Aku masih duduk manis dan menyiapkan kopi untuk menikmati kisahmu selanjutnya. Aku tunggu, selalu.
Karena dia dan kamu
Karena keluguanku
Karena kisah masa lalumu, tulisan ini ada.

Untukmu,
Terima kasih

Thursday, January 24, 2013

kuat untuk lemah

aku kuat, takkan kubiarkan siapapun memandangku remeh. tak ku izinkan pandangan kasihan itu menatapku. aku ini orang yang berkuasa. tak akan patuh semua peraturan tanpa alasan yang masuk akal. aku ini punya mulut, punya suara. ku tak suka? aku akan menyingkirkan hal-hal yang menjadi sampah. aku ini ada. bersiap-siaplah mati bila kau tak mengacuhkan ku. aku ini pemimpin. aku punya negara dan kalian semua adalah boneka ku. jadi? kalian harus tunduk padaku. aku ini tangguh, jadi bagi kalian yang punya mimpi untuk menjatuhkan ku, bersiap-siaplah untuk bangun dari mimpi. aku ini lebih dari yang kalian tahu. kau memakiku? aku akan balas memakimu hingga telingamu tuli! kau ingin melawan ku? kau harus membawa armada sejagad raya dan baru aku akan kalah, mungkin. dan kau tahu... tak ada
ampun untuk kalian, kecuali orang yang benar-benar baik. hahaha! sayangnya kawan, didunia ini tidak ada yang benar-benar baik.

bisakah? bisakah aku melakukan semuanya? tentu! aku selalu bisa. benarkah? benarkah itu semua? tentu! aku selalu benar.

jadi... cukupkah itu memperingatkanmu? cukupkah potongan-potongan kalimat itu membuat kalian jera? cukupkah itu membuat ku terlihat tegar?

CUKUP! aku sudah sampai pada batas energiku. aku lelah. terlalu lelah hingga tak mampu untuk berpura-pura kuat lagi. energiku habis hingga tak mampu mencari orang yang tepat untuk mendengarkanku. kemana kalian yang disebut 'teman-teman'? cuma sebagai formalitas yang memenuhi daftar teman di jaringan sosial. bullshit! sampah!

aku terlalu lemah hingga nafas pun kadang ku tak mau. lemah untuk mencari pendengar yang baik. hanya mendengar isakan tangis ku, itu sudah lebih dari cukup.

bisakah kau menebak kapan ku berbohong menjadi diri sendiri? ketika ku berbohong untuk kuat, ketika ku benar-benat kuat. dan saat ku berbohong menjadi lemah, hingga saat aku sangat lemah. bisakah kau mengetahuinya?

bisakah kalian membantuku saat ku butuh pertolongan tanpa ku memintanya? bisakah kalian memenuhi keinginanku tanpa ku menyebutkannya? bisakah kalian menopangku saat ku berpura-pura kuat?

aku lemah dari yang kalian tahu. aku bukan apa-apa dibandingkan kalian yang mungkin benar-benar 'ada' di bumi. aku hanya manusia yang bila aku tiba-tiba ditelan bumi, mungkin kalian tak ada yang sadar.

Sunday, October 7, 2012

bodoh dan kamu


Orang lain bilang aku bodoh. Awalnya aku tak peduli. Namun, waktu menyadarkanku. Dan aku benar-benar merasa paling bodoh ketika aku tetap meneruskan scene ini. Kau tahu hal tolol apa yang membuatku seperti ini? Kamu.

Kau adalah orang yang tak bisa kutelusuri pikirannya. Otakmu tak transparan seperti mereka. Dengan begitu pun aku tahu, kau akan melakukan  hal yang ‘spesial’ untukku.  Sayangnya, hal ‘spesial’ itu tak diharapkan.

Kau adalah manusia terbanyak dan tercepat untuk mengubah ekspresi di wajahmu. Terkadang itu lucu, semakin banyak alasan aku ingin dekatmu. Terkadang itu pahit. Tiap kali kita bertemu, tiap kali itu juga kau diam tanpa alasan. Suasana bernuansa cinta, mengapa kau tiba-tiba bergeming? Mungkinkah hanya aku yang terlena oleh cinta?

Kau adalah malaikat untuk semua orang dan aku tak suka itu. Aku benci ketika teman-temanku membicarakanmu tentang kelakuanmu yang menyenangkan. Kenapa mereka bisa merasakannya dan aku tidak? Kau selalu berkutat dengan otakmu ketika kita berdua dan lagi-lagi akulah yang harus mencairkan suasana. Aku berani sumpah, kita akan diam sampai akhir kalau aku menurut pada ego. Memang, matahari mampu mencairkan salju dikedua kutub. Akankah kau ingat? Aku bukanlah matahari. Aku bukanlah matahari yang terus berbaik hati berbagi kehangatan. Aku hanya matahari palsu yang berusaha membuat salju meleleh. Dan sekarang cahaya matahari palsu itu redup, energinya sekarat. Lelah untuk berpura-pura terang. Matahari itu ingin istirahat, namun ia tak mau membuat kutubnya menjadi salju abadi.

Banyak hal yang kupelajari saat bersamamu. Aku menjadi manusia yang bisa mengalah. Aku belajar darimu. Kau marah, aku mengalah. Kau lelah, aku mengalah. Aku marah? Kau akan lebih marah dan lagi-lagi aku mengalah. Cukup! Terlalu banyak praktek mengalah. Kau memberiku ujian? Itukah tes untuk menurunkan keegoisanku? Aku memang sudah bisa mengalah, kau berhasil. Kau juga berhasil membuatku lemah.

Kau sulit untuk meminta maaf tetapi mengapa begitu mudah mengajarkanku? Aku salah, aku pasti minta maaf. Kau salah, aku minta maaf. Kapan waktumu untuk memperbaiki sifatmu? Sekali lagi, aku lemah.

Jadi, itu adalah peraturan-tak-tertulis hubungan-tak-jelas kita?

Aku bertanya keadaanmu. Lalu kau menjawab dan kau tak bertanya tentangku. Aku diam. Aku sakit. Memintamu untuk mengantarku dan kau biarkanku menunggu. Aku diam. Kau bercerita ke teman perempuanmu panjang-lebar, sangat ekspresif. Dan kau hanya membutuhkan tak lebih tiga kata untuk menjawab aku. Dan aku masih diam.

Begitukah caramu memberi perhatian? Aku memang terlalu naif, tak seperti kamu yang handal dalam urusan cinta. Ironis sekali hidupku!

Kau tahu? Aku rindu saat kita berteman dulu. Saat kau selalu bersifat manis. Mendekat padaku kapanpun. Kau mengirimiku lebih dari satu pesan. Aku ingin kembali seperti dulu. Disaat kau berjuang merebut mahkota hatiku.

Aku ingin mengutarakannya. Semuanya. Namun, aku tahu apa yang akan terjadi sesudahnya. Kau pasti bilang, “kalau kau tak suka, mengapa tak kita akhiri?”. Lalu, apa yang harus kujawab?

Dari awal aku tahu akan seperti ini. Tak nyaman. Tetapi, aku bosan memperingatkan diri sendiri untuk tidak bersamamu. Dan sekarang aku harus terima resiko ini. Aku ingin pergi darimu. Ingin sekali. Namun, aku tak mau membuatmu pergi dan jauh dariku. Bisakah kau memberiku solusi?

Friday, August 24, 2012

naif

kita hanya dipermainkan oleh nafsu
kau dan aku
masih terpenjara di masa lalu

kau telah buta sepenuhnya
alasan mengapa kau tak tahu

sedangkan aku
masih ada celah untuk melihat
untuk tersadar

namun
aku memilih untuk diam
menerima segala kenyataan
tak ingin mengubah apapun
tak ingin membuatmu jauh

dan
dengan begitu pun aku tahu
aku telah memilihmu

Sunday, August 12, 2012

untitled

aku merebahkan tubuh di rumput hijau yang tampak segar. mencoba menikmati indahnya malam, sambil mengirup aroma tanah. kau datang dengan suara motor kesayanganmu. aku mencoba tenang, berpura tak peduli dengan kehadiranmu. menutup mata dan mencoba melepaskan penatnya kehidupan monoton ini.

kali ini, aku benar-benar tak ingat dengan keberadaanmu di sini. terlalu fokus mendengar bunyi jangkrik dan pendapat-pendapat monolog di otak.

tiba-tiba aku mendapatkan tanganku telah digenggam. jarimu melingkar penuh tanganku yang mungil. cara yang sederhana untuk membuatku merasa aman bersamamu.

aku masih menutup mata. membiarkan kulit ini yang merasakan hadirnya dirimu. kau mulai memainkan kebiasaanmu. menelusuri tiap detail jari-jariku dengan ibu jarimu. lembut.

aku masih bergeming. bersyukur Tuhan telah mendatangkanmu untukku.

jemariku bertaut dengan punyamu. kita menggenggam erat seakan takkan lepas bagai mata rantai. kau berbagi kehangatan. mengalirkan panas tubuhmu ke dalam telapak tanganku. hangat.

kuberanikan diri untuk membuka mata. hanya langit tanpa bintang yang kulihat. hembusan nafasmu membuatku menoleh. kulihat wajahmu tersenyum. senyum yang tenang dan tulus. seyuman yang tersirat perhatian. aku hanya bisa membalasnya dengan dua sudut bibir terangkat kaku. berharap kau bisa membaca keadaanku yang buruk.

tangan kokohmu membelai pipiku lembut. aku tak kuasa menahan hasrat untuk mengutarakan semua problema kepadamu. namun, bibir ini masih enggan untuk bergerak.

alih-alih, perlahan, aku menyandarkan kepala dibahumu dan menutup mata. kau membuatku merasa lebih baik dan kuat kembali. membuatku merasa bisa menghadapi masalah. merasa aku berada di tempat paling aman. merasa aku telah memiliki semua yang kuinginkan.

seketika aku jatuh ke dimensi lain dan berharap akan bertemu denganmu lagi di mimpi ini.

entah sihir apa yang telah kau gunakan. aku menikmati euforia-euforia ketika disisimu. ketika aku bisa menjadi diri sendiri. ketika aku bisa bersandar kepadamu. dan ketika aku bisa menumpahkan segala bebanku. i addicted you.


untuk kamu,
terimakasih…






nb: projek ini dari tanggal 11 juli. maaf kalo jelek. salam biru teman!

Friday, July 13, 2012

the meaning of silence

aku sedih.
dan kau terdiam. kau biarkan aku memelukmu dari belakang. mengeluarkan air mata dan berpikir itu dapat mengurangi beban.
kau pun terdiam lagi. ketika dagu milikku perlahan-lahan bertumpu di bahumu.
dan disaat itulah aku tahu kau tak sepenuhnya diam.
kau bicara dengan sikapmu.

Friday, June 29, 2012

kau dan sedihku

aku sedih
lalu kau datang
meluangkan waktumu
menghapus air mataku
mendengarkanku
memperlihatkan mata teduhmu
meminjamkan bahumu
mebiarkan tanganmu membelaiku
melakukan segalanya untukku
membuatku seperti seorang ratu

namun,
saat ku bahagia
kau datang bersamanya
berakting serasa dunia milik berdua
tak pernah menatapku
membuatku seperti seorang pencundang
kau ini menganggapku apa?
patung yang tak berdaya?
robot yang tak berperasaan?
atau
kau memang tak pernah menganggapku ada?

kau!
terlalu manis dirimu
hingga aku tak berdaya membencimu

kau
apakah akan selalu ada bilaku dalam masalah?
begitu kah?
dalam doa aku berharap
akan selalu sedih agar kau disampingku

Tuesday, March 6, 2012

something doesnt belong

Aku hanya bisa tertunduk menatapi kedua ujung stiletto peach pucat ini. Kamu tetap berusaha memanggil namaku walaupun tak ada respon seperti yang diharapkan. Aku masih ingat bagaimana kamu datang dikelilingi sahabat kamu. Sahabat kita. Tampilanmu sama seperti biasanya. Selalu menjadi magnet untuk mataku sehingga kemana pun mataku menyapu pandangan, pada akhirnya selalu berujung di wajahmu.

Dari sudut mata, kulihat kamu mendekat. Aku semakin yakin kamu berjalan kearahku setelah teman disisiku memberitahu. Aku meneruskan sandiwara melamun di pesta yang seharusnya membuat moodku membaik. Akhirnya, aku sudah melihat sepatu hitam berhadapan dengan stiletto-ku. Sangat serasi. Aku sudah menyiapkan skenario ini: dimana kamu berjalan kearahku dan mengajakku berbicara seperti biasa. Seperti tanpa ada sesuatu yang telah terjadi. Ini kah caramu bersikap dewasa menghadapi aku?

Mau tak mau aku harus menatapmu setelah kamu mengayunkan kelima jarimu didepan wajahku. Kamu sengaja membiarkan manik matamu bertemu punyaku. Membiarkan aku mengingat kembali hal bodoh dan kekanak-kanakan yang telah diperbuat.

“Hai, Na! Udah lama disini?” itulah katamu setelah apa yang telah terjadi. Setelah kadar kejujuranku meningkat hebat waktu itu. Menurutku, setelah aku memberitahumu apa yang kualami, penyakit salah tingkah ini berkurang. Namun, dugaanku salah. Walaupun aku sudah berterus terang padamu rasa cinta yang seharusnya tak ada di persahabatan ini, hasilnya pun nihil. Yang ada hanya perasaan malu yang semakin menjadi-jadi setelah pernyataan cintaku itu atau mungkin lebih tepatnya disebut ‘penembakan’.

“Hai, Lang. Hmm, lumayan lama lah.” Ucapku hati-hati diiringi senyum yang tak tahu untuk siapa. Gilang, sudah berapa hari kita tak berbincang? Aku hanya ingin kita seperti dulu.

“Na, keluar yuk!” Apa yang harus kulakukan? Mengikuti sesuai perintahmu atau tetap berdiri disini menjalani sandiwara melamun lagi? Kamu hanya memberiku waktu sekejap untuk melakukan monolog dipikiranku, selanjutnya kamu menggenggam tanganku. Cara yang sama dimana kamu menggenggam tanganku juga saat bermain dengan sahabat kita yang lain.

“Rena,” i love the way you called my name, Gilang. Aku tahu sekarang saatnya aku berbicara. Aku tahu kamu menuntut jawaban dariku setelah kamu bertanya, “Ada apa sama kamu? Kenapa kamu terlihat menghindar dari aku?”

Aku sudah siap menjawab semua pertanyaan. Tapi, seluruh kata-kata tercekat di tenggorokan. Tak mampu dikeluarkan. Mataku mulai lembab. Air mata sudah membendung di bagian bawah mataku. Teringat semua penderitaan yang aku jalani selama memiliki rasa cinta ini. Terus dan menerus salah tingkah dan bersikap tak kenal padamu. Disaat yang lain bercengkrama, hanya aku yang terus melamun bila sahabat-sahabat kita berkumpul.

“A... Aku...,” akhirnya air mataku jatuh tak tertahankan. “Aku merasa bersalah sama apa yang aku rasain, Lang. Aku nggak tahu kapan dan kenapa rasa suka aku ke kamu itu muncul. Aku juga nggak mengharapkan cinta ini ada. Aku kira kalau aku bilang ke kamu soal itu, perasaanku akan lega. Tapi, ternyata...” tangisku meledak. Malu. Sakit. Lelah. Semua perasaan berkombinasi hingga membuat hidupku gelap sempurna.

Kamu masih menatapku lekat. Sedikit memiringkan kepala agar wajahku
yang tertunduk terlihat. “Gilang, aku mau kita kaya dulu. Aku mau kita seperti dulu. Seperti sahabat lagi. Aku dan kamu.” Kamu pun mengangguk tanda mengerti. Tersirat seulas senyuman pengertian diwajahmu. Kamu tahu bagaimana cara mengatasi aku.

“Na, sebenarnya nggak ada yang salah dengan apa yang kamu lakuin. Kamu Cuma menyatakan cinta kamu. Itu baik kok, karena kamu udah jujur. Nggak munafik, kamu tahu? Yang kamu butuh itu hanya waktu.” Kamu berhasil meraih kepalaku dan mengarahkan ke dekapan tubuhmu. Sebuah pelukan yang hangat. Pelukan sebagai seorang kawan lama.

Kamu dan aku. Kita berdua saling mengerti dengan kondisi perasaan masing-masing. Kamu tahu, apa yang perlu kita lakukan bukanlah menjauh. Melainkan memberi kesempatan pada sang waktu untuk melenyapkan perasaan yang salah di hatiku. Dengan kenyataan kamu disini, aku yakin kita bisa berjuang melawan cinta yang hampir menodai persahabatan kita.

***

Monday, January 9, 2012

If I Say: part 4

Sam melambaikan tangannya didepan pelupuk mata. Membuyarkan lamunan dan membuat aku sadar kembali. “Hah? Eh? Kok lo ngomongnya gitu sih, Sam. Jangan ngaco deh! Udah balik sana. Ada Mary menunggu.” Aku menggodanya hanya untuk menutupi kegirangan hati.

“Gue suka sama lo, Mon,” jawabnya yakin. “Bukan Mary.” Lirih.

“Tapi...” aku kehabisan kata-kata, tak percaya. “Tapi lo kan selama ini suka sama Mary, Sam!”

“Kapan gue pernah bilang kalo gue suka sama tuh cewek!?” sorotan matanya tajam bagaikan sebilah pisau yang bersiap menikamku. Ia mulai dikuasai amarahnya. Mencerna kalimat Sam, aku sadar. Ya ampun! Dia benar! Sam tidak pernah mengatakan bahwa dia suka sama Mary. Bodohnya diriku. Aku hanya dikuasai oleh perasaan khawatir dan cemburu. Sehingga pikiranku gelap dan buta. Aku bergeming.

“Lo masih inget pas kita chatting dan gue ngirim foto lo yang gue ambil diam-diam?” Ya, aku ingat Sam. Aku ingat kejadian manis itu. Sangat jelas tertera di memori saat ia mengirim fotoku ketika kami sedang hunting foto. Disana, tergambar aku sedang memotret sebuah objek dengan sangat serius. Kelihaian tangannya membuat foto itu menjadi indah.

Aku mengangguk. “Itu Cuma 1 foto dari ratusan foto tentang lo, Mon.” Ucapnya lembut.

Bagaikan turun hujan ditengah kemarau panjang, momen ini sangat kuharapakan. Namun, aku tak kuasa melihat air mata teman baruku jatuh karena ulahku sendiri. Aku tak tega melihat Mary murung. Dia sangat bersemangat ketika tahu Sam mencintainya. Mungkin dia akan bersemangat juga bila tahu sebenarnya Sam menyukaiku. Bersemangat bunuh diri, maksudnya.

“Tapi, kalo lo suka dari awal, kenapa lo nggak nembak gue sebelumnya?”

“Lo yang nggak pernah ngasih gue kesempatan, Mona!” Sam mencengkram kedua bahuku. Aku menatap kedua mata cowok itu. Tersirat rasa lelah. Sepertinya ia sudah tak mampu menjalani sandiwara ini. Tak mampu lagi menambah kebohongan-kebohongan lain. “Lo masih inget chatting-an kita semalam? Gue pingin jujur sama lo. Tapi lo malah memotong pembicaraan! Gue capek ngikutin semua skenario lo, Mon! Disaat gue jujur, lo menganggap gue bohong. Begitu pun sebaliknya. Makanya gue terima permainan lo ini.”

Betapa kejamnya aku. Kuabaikan pandangannya. Tak mampu menatap balik padanya. Aku benar-benar tak kuasa melihat Sam seperti ini. Hancur karenaku. Masih mengcengkram kedua bahuku, “Mona,” ucapnya lembut.

Aku menepis kedua tangan yang bersandar dibahuku. Terlihat dari sudut mataku, Sam kaget dengan reaksi yang aku berikan. Aku bingung keputusan apa yang harus kupilih. Melihat orang lain bahagia disaat aku terpuruk, atau melihat aku bahagia disaat seseorang disana menangis pilu.

“Tembak dia, Sam.” Ucapku lemah. Terdengar nada suaraku mulai bergetar. Menahan tangis yang segera meledak. “Lo tau dia cinta sama lo dan lo merespon dia.” Aku mengambil napas. Benar-benar sulit mengeluarkan kata-kata yang ada dihati. Setiap kata terasa tertahan di tenggorokan. “Kalo memang benar lo suka sama gue, kenapa nggak dari awal lo nolak gue deketin sama Mary?”

“Gue...” ia berhenti bicara. Sepertinya merangkai kata. “Gue pikir kalo gue mengiyakan semua tawaran lo, gue bisa makin dekat sama lo.”

Sebenarnya apa lagi yang kutunggu? Sam mencintaiku dan begitu pun sebaliknya. Tapi, semakin aku mau menerima Sam, semakin sering terbayang wajah Mary.

“Lo udah ngasih harapan ke Mary. Jangan buat itu menjadi harapan kosong. Di beri harapan kosong itu lebih sakit lho, daripada nggak di respon sama sekali.” Hatiku mencelos. “Memang perbuatan gue salah, menghakimi lo seenaknya. Tapi, gue yakin tindakan lo sama salahnya kalo lo ngasih harapan palsu ke cewek itu.” Aku menunduk dalam. Berusaha menyembunyikan mataku yang mulai memerah.

“Tapi, mon...”

“Plis, Sam. Tembak dia.” Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau melihat temanku kecewa. Sam, kalau kita memang orang yang dipertemukan untuk bersama, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Ini hanya masalah waktu. ”Demi gue.”

“Mona?” Sam tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Wajar. Aku sendiri tak percaya dengan kalimat bodoh yang kulontarkan.

“Tembak dia, demi gue.”

Kami berdua memang sama-sama naif. Hanya karena ketidakpunyaan keberanian, cinta kami tak menyatu. Aku dan Sam berdiri diam. Membiarkan orang-orang berjalan-jalan di sekeliling. Suara celoteh pengunjung maupun ocehan sales tak lagi terdengar. Hanya degup jantungku yang bisa terjangkau telinga. Aku merasa lututku sudah tak mampu menompang tubuh. Bisa saja aku jatuh pingsan sewaktu-waktu.

Kulihat Sam, dia masih menatapku dengan tatapan sedih. Ia terlihat seperti sedang berpikir. Aku masih diam. Menahan air mata yang akan terjun bebas. Aku benar-benar tak kuasa berbicara lagi. Keluar satu kata lagi dari bibirku akan membuat tangisku meledak.

Sam yang terlihat kacau, perlahan tersenyum. Senyuman dalam sedih. Senyuman dalam penderitaan. Lalu ia mulai membuka mulut. Sungguh, aku tak ingin mendengar apa yang ia katakan.

“Oke, kalo itu yang lo mau. Gue akan nembak dia. Demi lo.” Ia memberikan senyumannya yang khas. Senyuman yang melambangkan tidak terjadi apa-apa aku dan dirinya. Sam pun balik badan. Meninggalkanku yang sedang menunduk menatap dasar bumi. Bahuku terguncang-guncang. Ya, aku menangis.

Sam, jangan berikan senyum sedihmu lagi padaku...

***

To be continued

Friday, January 6, 2012

If I Say: part 3


“Laper nih,” Erick terlihat meremas perutnya. “Makan dulu yuk! Mainnya nanti lagi.” Kami berlima―Mary, Sam, Erick, Julie dan aku―sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dalam rangka ulang tahun Erick, aku dan yang lain―yang merupakan teman kursus Erick―di traktir menonton film dan makan siang.

Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat hadir. Memang pada awalnya  sangat bersemangat. Namun, kejadian semalam membunuh mood-ku. Peristiwa itu, lagi-lagi, terjadi karena kebodohanku.

Pada malam itu, aku membuka laptop. Tujuan utamanya untuk mendownload beberapa lagu. Aku mencoba menyuri waktu untuk melihat kontak Sam di social network tersebut. Offline tertera di atas namanya. Padahal aku sangat berharap ia sedang online dan memberi pesan terlebih dahulu. Tapi, harapan adalah harapan. Kadang tercapai, kadang pupus begitu saja.

Ditengah proses mendownload, terdengar bunyi peringatan pertanda ada yang baru online dan itu Sam. Wow! Cepat sekali Tuhan mengabulkan permintaanku. Seperti yang kutebak, tak lama Sam mengirim pesan. Menanyakan kehadiranku pada acara ulang tahun Erick pada esok hari. Aku menjawab aku datang. Tiba-tiba jemariku mengetik kalimat yang, benar-benar, tidak mau kukatakan. Tapi mengapa ini? Bodoh!

Mona : sam, besok kan ada mary
Nah knp ga lu tembak ajah sekalian?
Samuel : ha? Tembak?
Mona : iya. Nembak
Kelamaan pedekate lu!
Kasian tuh cewe di gantungin mulu ama lu
Samuel : mon, gue sama sekali ga kepikiran buat nembak dia akhir2 ini
Nanti ajah ya
Mona : skrg atau nanti apa bedanya?
Samuel : mona, gue
Mona : udahlah sam
Lu berdua kan saling suka. Nunggu apa lg?
Samuel : okeh kalo itu mau lu
Mona : loh ko mau gue?
Itukan kemauan kalian
gue Cuma jadi perantara ajah :)
***

Akhirnya Erick memutuskan restoran mana yang akan menjadi tempat pengisian perut. Aku berfirasat bahwa Sam akan mengatakan 3 kata itu di saat-saat seperti ini. Saat menunggu pesanan datang.

“Guys, gue ke sana sebentar ya,” aku menunjuk sebuah toko baju. Dustaku. Sebelum meninggalkan tempat, aku tersenyum kepada Sam dan mengucapkan, “It’s your time.” Tanpa suara dengan artikulasi yang jelas. Lalu berjalan keluar. Entah kemana, aku sudah lupa alasan kepergianku. Berjalan ditengah lalu lalang orang-orang dengan tatapan kosong. Tak ada semangat. Tak ada gairah. Membiarkan waktu terus berjalan. Pikiranku melayang pergi. Memikirkan kata-kata yang akan kurangkai untuk ucapan selamat nanti. Tenggelam jauh dalam kesedihan sampai ada seseorang menarik lenganku.

Rambut yang sedikit berantakan dengan senyum ramah menganggumkan. Raut wajah yang lelah tidak mampu menyembunyikan ketampanannya. Sepertinya ia mengejarku.

“Ada apa, Sam? Lho, kok lo disini?”

“Gue bilang ke mereka kalo gue mau ke toilet.” Ia menghela nafas. Cowok itu tersenyum dan menaikkan kedua alisnya. Di saat-saat seperti ini, mengapa aku masih sempat terpesona olehnya?

“Toilet kan disana.” Menunjuk arah yang berlawanan.

“Iya gue tau kok,” Aku memasang muka bingung. Jujur, aku tak mengerti maksud manusia ini. “Gue pingin ketemu lo.” Mimik muka berubah menjadi serius seketika.

“Ngapain emang? Lah kan sekarang waktunya lo nembak dia, Sam. Tadi kan gue udah ngasih tau. Nanti kalo nggak ada waktu lagi gima...”

“Mona, gue nembak lo ajah ya.” Mulutku terbuka tak disadari. Aku masih menatap dia dengan ketidakpercayaan. Bisa dirasakan, hatiku meletupkan ribuan kembang api. Kaget, bingung dan senang. Suatu kombinasi perasaan yang mencapai keseimbangan. Ya, keseimbangan hidup. Tuhan, aku memang mengharapkan ini. Tapi tolong jangan kau biarkanku mengakhayal terlalu tinggi, aku takut bila terjatuh. Aku sadar aku harus bangun dari mimpi indah yang mungkin hanya dapat dirasakan sekali selama jantung berdetak.
 *** 


to be continued...

Monday, January 2, 2012

If I Say: part 2


8 bulan kami―aku dan Sam―berteman, hubungan kami semakin dekat. Namun, hanya sebatas teman. Aku mencoba untuk menahan perasaanku yang tak karuan. Beberapa hal aneh terjadi pada raga ini. Aku mulai senang menerima pesan singkat dari Sam. Sangat nyaman bila bercengkrama dengannya. Aku tahu jelas perasaan yang sedang kualami. Perasaan manusiawi yang timbul bila orang itu tertarik dan merasa nyaman terhadap orang yang lainnya. Aku mencoba menangkis rasa itu. Apadaya, usahaku sia-sia. Aku mulai mencintainya.

Aku masih bersikeras membuang jauh-jauh rasa cintaku pada dia. Perasaan yang tak wajar, bahkan tak kuharapkan sama sekali kedatangannya. Rasa cinta ini hanya penganggu apalagi bila tak terbalas. Dan aku semakin ingin memusnahkan perasaan ini ketika tahu dia mulai tertarik dengan orang lain.

Kuberikan minuman kaleng isotonik padanya. “Nih Sam!”. Kami duduk di kantin, terletak meja panjang putih di depannya.

“Trims,” ucapnya tersenyum dan mengambil minuman ditanganku. “Oh iya, lo tahu nggak anak cewek baru yang ada di tempat kursus kita?”

Aku mengambil posisi duduk tepat di depannya. Di sepanjang meja itu kosong, hanya kami berdua yang menempatinya. “Iya tahu,” aku mengangguk. “Siapa namanya? Me... Ma... Aduh lupa.” Aku tertawa renyah menutupi malu karena tak pandai mengahapal nama seseorang.

“Mary.” Jawabnya. Aku teringat dengan siswi baru yang berparas indah. Mata birunya sangat mengagumkan. Rambutnya yang bergelombang kecokelatan dibiarkan terurai dengan indah dibalik punggungnya. Anggun. Kulitnya yang kuning langsat pun mulus tak bernoda. Benar-benar wanita yang diidolakan kaum adam.

Semua cowok di kelas heboh membicarakannya. Aku kira Sam satu-satunya cowok yang tak begitu tertarik dengan “Barbie” itu. Karena saat semua orang sibuk menganggumi manusia berparas bidadari, hanya Sam yang duduk dalam diam di sampingku. Dugaanku meleset. Sam tak lebih seperti semua lelaki yang menganggumi wanita cantik.

“Nah iya Mary!” aku tertawa kembali. Entah mengapa, saat aku bersama Sam, yang ingin ku lakukan hanya tertawa. Salah tingkah, mungkin. “Emangnya kenapa, Sam?”

“Nggak, nggak apa-apa.” Ucapnya tersenyum. Manis sekali.

“Ah masa? Lo suka ya?” Godaku. Begitu spontan.

Dia tersedak minuman. Mungkin dia tak menyangka aku akan menggodanya. “Apa sih lo! Rese.” Jawabnya dengan sedikit kesal.

“Kalo suka, bilang ajah kali Sam. Nggak usah ditutup-tutupin,” aku makin bersemangat menggodanya. Lalu aku menepuk pundaknya, “Masih kaku ajah lo ama gue.”

“Apa deh lo, Mon.” Sam pasrah. “Hmm... By the way, si Mary cantik ya?” ucapnya sedikit nada ragu tersirat.

Kali ini aku yang tersedak. Tak menyangka Sam akan mengeluarkan pertanyaan―mungkin lebih tepat disebut pernyataan―seperti itu. Bingo! Dia membuat orang yang berada di depannya patah hati. Bisa kurasakan, hati ini mulai runtuh menjadi partikel-partikel terkecil di alam semesta. Patah hati untuk orang yang sedang jatuh cinta memang wajar. Aku percaya, setiap orang yang pernah jatuh cinta pasti pernah patah hati juga.

“Lo kenapa, Mon? Pelan-pelan dong Mona minumnya.” Sam meninggalkan kursinya. menghampiri lalu mengelus punggungku. Aku, yang hidungnya masih sakit karena tersedak, berdebar-debar. Suara Sam yang begitu hangat terasa dekat. Sepertinya, bibir Sam hanya berjarak beberapa milimeter dari cuping telingaku.

Kalau memang kau mulai tertarik dengan orang lain, mengapa kau masih bersikap manis padaku, Sam? Tak kasihankah kau padaku? Apa kau sengaja membiarkanku memiliki harapan kosong?

“Gue nggak apa-apa kok,” mengangguk pelan. “Tadi cuma keselek doang.” Aku tertawa dengan suku kata yang jelas. Terdengar sangat dipaksakan. “Iya, Mary cantik. Seengganya lebih cantik daripada gue.” aku memberikan lelucon, yang sepertinya terdengar tak lucu.
***

Sekarang aku semakin tak mengerti apa yang kurasakan. Harus diakui, aku memang tak suka Sam mencintai perempuan lain. Namun, perasaan dan badan ini tak sejalan. Aku malah membantu Sam mendekati Mary. Dan mulai menampung semua curahan hati Mary. Belakangan ini kami memang cukup dekat. Mary dan aku sama-sama menyukai film drama musikal. Akhirnya, kami sering meluangkan waktu untuk menonton film dan sekedar berbincang-bincang tentang kedekatan Mary dan Sam.

Seiring waktu, aku dekat dengan Mary, begitu pun hubunganku dengan Sam. Dua orang ini saling menyukai. Kehadiranku tak boleh menjadi dinding besar yang menghalangi mereka. Di satu sisi, dimana Mary terus bercerita tentang kemajuan hubungannya dengan Sam, aku dengan polos tersenyum. Membiarkan deretan gigi menutupi kepedihanku. Lalu, ketika sadar hanya ada aku dan Tuhan, aku membiarkan air mata jatuh tak tertahan dan menyesal apa yang telah kuperbuat selama ini. Namun, sudah terlambat untuk mengakhiri. Aku terlalu jauh membantu mereka.

Aku bukan lagi diriku. Aku bagaikan robot yang tak berperasaan. Membiarkannya semua mengalir. Membiarkan apa yang kulakukan menyakiti hati ini. Aku bodoh. Pengecut. Dan satu lagi.
Munafik.
***


to be continued
 

Friday, December 9, 2011

If I Say: part 1

Seperti biasanya, hujan turun tanpa diduga. Aku masih termangu dengan badan sedikit basah karena menerobos hujan. Di dalam ruangan yang tak begitu luas, aku duduk ditemani suara mesin pendingin ruangan bersama beberapa teman saja karena yang lainnya belum datang. Mungkin hujan menyebabkan mereka akan telat mengikuti kursus fotografi hari ini. Begitu pun Sam. Ia―yang merupakan temanku satu-satunya yang berasal dari sekolah yang sama di kursus ini―tak kunjung datang.
           
Tiga menit sebelum bel, Sam datang dan duduk disampingku. Wajahnya selalu cerah begitu membuka pintu ruangan, begitu lah caranya menyapa teman-temannya. Ia memang orang yang ramah. Ku akui itu.
           
“Hai Mon.” sapanya untukku.
           
Aku balas tersenyum. Malas mengangkat mulut yang mulai menggigil. Aku benci pendingin ruangan itu. Sepertinya, teman-teman di sekeliling akan melihatku mati perlahan karena kedinginan.
           
Ditengah pembahasan mengenai penggunanaan diafragma dan speed yang tepat, Sam menyentuh lenganku dengan  sikutnya. Aku tahu, itu adalah aba-aba ia ingin bicara sesuatu.
             
“Apa?” aku menoleh.
             
“Lo kenapa, Mon?” jawabnya tanpa melihatku. Pandangannya tetap tertuju pada papan tulis.
             
“Hah? Apanya yang kenapa?”
             
“Daritadi lo diem ajah, bro.” Nadanya ramah. Dia menoleh padaku.
             
“Oh. Kedinginan gue Sam,” aku tertawa. “Tadi gue sempet kehujanan terus sekarang AC-nya mantap banget nih! Hehe.” Ujarku panjang lebar.
             
“Oh karena itu. Gue kira kenapa. Mau pakai jaket gue?” dia menunjukkan jaketnya yang sedang dipakainya.
             
“Hah? Eh?” aku menjawab seadanya. Kaget.

“Nih.” Sam mulai melepaskan jaket dari lengannya. Saat ia hendak melepaskan jaket itu dari lengannya yang lain, aku mencegah. 

Sebenarnya aku tidak benar-benar menolak pemberiannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang menolak sesuatu yang sangat berguna bagi dirinya? Hanya saja, aku takut. Takut jikalau menerima pemberiannya, nanti makhluk diruangan ini akan meledek bahwa kami pacaran. Aku tidak suka diledek. Aku lemah saat berada diposisi itu. Hanya bisa tersenyum memperlihatkan deretan gigi. Aku bahkan tidak bisa tidak mengeluarkan ekspresi sekeras apapun usahaku. Tindakan itulah yang membuat orang punya persepsi yang salah. Entahlah, itu urusan mereka di dunia mereka.

Guru-guru ditempat kursus ini juga sering menggoda aku dan Sam. Karena aku satu-satunya orang yang tahu kenapa cowok itu tidak hadir. Padahal alasan yang sebenarnya mengapa aku tahu adalah karena kami satu sekolah. Kami sering bertemu. Namun menurutku, Sam tak mengindahkan mereka yang terus menggoda. Kalau Sam bisa tak mengacuhkannya, mengapa aku tidak? Ya ampun, ada apa denganku?!
             
“Eh! Nggak usah, Sam. Sumpah deh nggak usah,” aku melepaskan genggaman tanganku di pergelangan tangan cowok yang disampingku. “I will survive, kok.” Jawabku meyakinkan.
             
“Oh yaudah.” Jawabnya seadanya. Mungkin kecewa karena sikapku, mungkin juga tidak.
***

Tahun pertama di sekolah membuatku ingin sekali membenturkan kepala ini pada dinding kamar. Tugas yang menumpuk menjadi faktor utama kadar stressku meningkat. Bagaikan ultimatum, guru mengeluarkan kumpulan tugas dari mulutnya tanpa rasa bersalah.
             
Jarum panjang jam sudah kearah angka sebelas. Tepatnya, jam sebelas malam. Seharusnya, jam-jam seperti ini aku sudah terbaring nyaman di tempat tidur dan sedang menikmati indahnya euforia bunga tidur serta menganggumi cantiknya bunga-bunga di padang Kashmir. Untuk kali ini, aku relakan angan-angan itu. Aku relakan hanya untuk menyelesaikan makalah walau dengan setengah hati.           

Saat sedang mengetik, tiba-tiba kotak chatting terbuka. Ada seseorang mengirim pesan untukku. Aku baru sadar bahwa sejak tadi status kontakku dijejaring sosial itu adalah online. Di kotak pesan itu tertera nama Sam. Ya, aku tak salah baca. Akhir-akhir ini kami memang lebih sering chatting daripada mengirim pesan singkat. Hemat pulsa, katanya.
           
Samuel : mon, kok belum tidur jam segini?
Mona : iya nih sam. Lagi ngerjain tugas pak jo.
Yg makalah itu lhoooo.
Ga kelar2 nih hehe
Samuel : oh yang itu.
Diterusin besok aje kali mon.
Sekarang lu tidur ajah
Mona : nanggung ah sam. Besok mau gue kumpulin
Samuel : mending lu tidur. Nanti mata lu berair lho
Mona : ha? Kok berair?
Samuel : iya. Kan mata lu kecapean. Jadinya berair mon.
gamau kan? Tidur ya?
Mona : iya deh sam. Gue duluan ya tidurnya. Bye..

            Ada apa dengan Sam? Kenapa ia menjadi begitu perhatian denganku? Apa mungkin hal seperti itu merupakan hal yang biasa sebagai seorang teman? Atau aku saja yang terlalu menganggapnya berlebihan, benarkah?
***


to be continued 

Wednesday, June 1, 2011

hadiah terindah

kemudian, aku genap berusia 15 tahun. Sebaya dengan teman-temanku. Ketika masuk sekolah, aku merasa bosan. Tak ada kejutan dari teman-temanku. Ucapan selamat dan doa telah mereka berikan untukku. Terharu. Jam pelajaran demi jam pelajaran aku lewati dengan rasa bosan dan kantuk.

Bel pulang sekolah terdengar merdu sekali karena ku menantikan bel tersebut. Aku mengambil sapu karena hari ini adalah kewajibanku membersihkan kelas ini. Betapa sialnya aku! Aku yang sekarang bertambah usiaku, yang seharusnya diperlakukan layaknya seorang putri dari kerjaan malah menyapu kelas ini. Aku mengeluh didalam hati.

Tiba-tiba teman-temanku, Urel, Dina, Vanni dll datang membawa kue tart mini dan seseorang dibelakangnya. Aku tertegun. Aku tak percaya dengan siapa yang mereka bawa. Apakah itu benar dia? Apakah itu benar kalau itu Eldo? Eldo seorang kakak kelas yang selama ini aku dambakan. Kalau itu iya, untuk apa ia datang kemari? Ah aku shock, terkejut dan akau rasa seluruh tubuhku mulai berkeringat dingin karena jantungku berdegup kencang.

‘Haaappy birthday Netaaaa! Haaappy birthday Netaaa! Happy biiirthday, hppy biiirthday. Haaappy birthday Neta!’ teman-temanku beserta Kak Dinu, Kak Sean serta Kak Eldo menyanyikan lagu untukku. Jujur, aku mau pingsan. Aku masih mengira kalau kejutan ini tuh mimpi. Aaargh!

‘Neta! Kok lu diem sih? Kaget ya kenapa gue bawa Kak Eldo?’ Vinna meledekku. Aku hanya bisa senyam-senyum dan cengar-cengir padahal dalam hati aku sangat gelisah dan penasaran.

‘Sini Net! Potong kuenya dulu! Maaf ya nggak ada lilin haha,’ Urel menyodorkan kuenya.

‘Ah iya. Nggak apa-apa kok. Thanksya,’ jawabku agak gemetar.

Aku potong kuenya dengan perasaan campur aduk. Kaget. Senang. Penasaran. Takut. Kaget karena temanku membawa kejutan dan ada Kak Eldo, senang karena akhirnya Kak Eldo tahu kalau aku sedang berulang tahun, penasaran karena aku ingin tahu kenapa dan mau apa Kak Eldo disini serta takut karena aku tak tahu harus berbuat apa kalau Kak Eldo tahu aku menyukainya.

‘Potongan pertama pasti mau dikasih ke yang itu tuh! Kak Eldo!,’ aku speechless.

Kak Eldo pun menoleh ke arah Dina. Teman-temanku mendorong ke arah Eldo dan aku melihat Eldo sedang dibujuk oleh Dinu dan Sean agar mendekat ke arahku. Aku terasa seperti sedang kambuh asmanya, padahal aku tak punya penyakit tersebut. Ketika jarak kami cukup dekat, aku bingung apa yang harus aku lakukan.

‘SUAPIN NET! SUAPIN NETAAAA!’ temanku bersorak-sorai tak mengerti posisiku. Lebih parahnya lagi, temanku ada yang sedang merekan video menggunakan handycam  yang sengaja dibawanya. Tiba-tiba salah satu dari temanku, aku gatau siapa karena tak sempat melihat wajahnya yang dibelakangku, mendorong tanganku yang membawa sepotong kue ke arah bibir Eldo. Nafasku terengah-engah. Aku pasrah. Keringat dingin sekujur tubuhku. Hatiku berdegup-degup. Ketika kue menyentuh bibirnya dan bibirnya membuka untuk memakannya, perasaanku semakin tak karuan. Aku tidak berani untuk melihat kejadian tersebut. Malu namun mau.

Setelah selesai acara suap-suapan layaknya pangeran William dan Kate, temanku memberitahu pengumuman yang amat luar biasa. ‘Neta, pasti lu penasran dong kenapa Kak Eldo ada disini?’ aku mengangguk. ‘Jadi, Kak Eldo, Kak Dinu ama Kak Sean tuh kesini mau ngucapin ultah ke lu terus …’ ucapan Dina terputus

‘Terus apa?’ paksaku karena tiba-tiba Dina memutuskan pembicaraannya.

‘Terus… KITA NGERENCANAIN KALO HARI INI LU AMA KAK ELDO BAKAL JALAN BERDUA LAYAKNYA PASANGAN!!! Khusus hari ini Net!’ teriak teman-teman ku dan Eldo bersamaan.

‘HAH?! Miapa? Eh… hmm maksut gue emang kakak mau jalan ama Neta?’ jawab aku kikuk. Aku salting.

‘Ha? Mau kok,’ Eldo tersenyum simpul. Kali ini aku muak melihat muka Eldo. Kenapa? Karena itu membuatku ingin berlompat girang kesana-kemari.

‘Yaudah sana kalian pergi! Asik dah Eldo!’ ledek Sean.

Akhirnya kami, aku dan Eldo, keluar kelas dan menuju ke tempat parkir. Ketika dilorong sekolah, tiba-tiba Eldo membuka percakapan. ‘Mau kemana kita Net?’ aku yang masih belum rileks, tersentak kaget.

‘Ha? Emm… gatau kak. Terserah kakak ajah he he,’ jawabku amat sangat kaku dan itu membuatku bodoh seperti keledai.

‘Yang deket ajah ya, Margo. Lagian gue laper hahaha,’

‘Oh yaudah ka. Terserah hehe,’ daritadi aku hanya cengar-cengir tak tahu harus buat apa.
***

Sesampai di mall terdekat, giliran aku yang membuka percakapan. Aku mencoba untuk enjoy dan tidak kaku.

‘Mau kemana dulu nih ka?’

‘hmm kemana ya? Kayanya kita masih kaku belum kenal banget, gimana kalo kita ke Starbucks ajah?’

‘Ide bagus Kak! Hehe,’

 

Di Starbuck kami memesan Double Chocolate Cream karena kami sama-sama pembenci kopi. Kami bercengkrama untuk mencairkan suasana.

‘kak Eldo, kok mau sih diajak temen-temen Neta buat ngasih surprise ke Neta?’

‘emm, gimana ya? Abisnya kata temen lu, lu… emm lu tuh su-ka am ague. Trus mereka mohon-mohon gitu. Jadinya gue terima ajakannya,’ jawab Eldo polos.

Untuk kesekian kalinya, aku shock mendengar omongan kak Eldo. Semua temanku bilang kalau aku suka ama dia? Jadi, sekarang dia sudah tahu?. ‘Hah? Jadi mereka bilang kalau aku suka ama kakak? Kok mereka jujur banget sih?! Ah bĂȘte!’ kumenggerutu.

‘Jadi yang dibilang temen lu bener?’ tiba-tiba Kak Eldo bertanya dengan tidak sabar.

‘Hah?’

‘Jadi yang dibilang temen lu kalo lu suka ama gue itu bener?’ Kak Eldo memajukan kepalanya ke arah aku.

‘Ha? Iya ka hehe,’ aku mati kutu. ‘Tapi banyak kok Kak yang suka sama kakak. Temen-temen Neta ajah banyak yang suka ama kakak,’

‘Beneran? Kok selama ini gue ngerasa nggak ada penggemar ya?’ kak Eldo tidak percaya bahwa ia sekarang menjadi idola teman-temanku.

‘Serius deh Kak! Yaa mereka kan sukanya ngumpet-ngumpet biar nggak ketauan ama kakak. Kan kalo ketauan, malu kak,’ jelasku panjang lebar.

‘Lu nyeritain diri sendri ya? Suka sama gue tapi nggak mau ketauan?! Hahahaha ciekan gue punya penggemar,’ Eldo meledek aku ketika aku menghabiskan minuman. Alhasil, aku tersedak. Aku malu dengan lelucon yang diberikan Eldo. Itu tepat dengan realita. Selama aku tersedak, Eldo tertawa bahagia. ‘Kasian. Udah, udah minum pelan-pelan. Lu tuh lucu ajah sih Net! Hahaha. Ayo kita ketempat lain,’ ajak Eldo sambil mengusap kepalaku. Aku yang tadinya sedang batuk-batuk karena tersedak, jadi hilang. Kak Eldo selalu tahu cara membuatku terkejut.

Setelah dari Starbucks, aku dan Eldo pergi ke tempat permainan Timezone. Disana kami benar-benar senang. Bisa tertawa lepas. Aku senang karena Eldo orangnya sangat supel. Mudah bergaul. Kalau dilihat-lihat, aku dan Eldo seperti pasangan remaja namun sayang, ini hanya untuk sehari saja.

Karena begitu lelah, kami mengisi energy kami di restoran Pizza di Margo City ini. Ketika makan, Eldo menceritakan kalau ia sebenarnya sudah tahu kalau aku menyukainya sejak pensi. ‘hmm, Ta. Gue tau lu suka sama gue dari semenjak kita pensi. Pas gue ngeliat lu, lu selalu ngeliat kearah gue. Tapi gue nggak mau gue jadi GR. Makanya gue pikir kalo lu nggak suka sama gue,’

‘Ha? Trus apa urusannya Kak kalo Neta nggak suka sama kakak?’

‘Yaa gue kecewa dong,’

‘Kecewa kenapa ka?’ aku semakin tidak mengerti.

‘Gue kan suka sama lu, Net. Masa lu nggak nyadar?’ aku tersedak. Hah? Bagaimana bisa laki-laki yang aku sukai ternyata menyukaiku. Kenapa???

‘HAH? BENERAN KAK? Kok bisa?!’ tanyaku meyakinkan.

‘Ooh jadi lu nggak mau gue sukain?! Oke. Fine,’

‘Eits… bukan gitu. Neta heran ajah kok bisa-bisanya kakak suka sama Neta,’

‘Itu dia yang bikin gue bingung kenapa gue suka sama lu. Sepertinya karna lu aktif pas pensi dan acara sekolah lainnya, soalnya gue suka cewek yang aktif. Lagian gue suka terkejut ngeliat respect lu pas lu ketauan ama gue kalo lu lagi ngeliat ke gue hahaha itu lucu Net. Dan gue suka itu,’ jelas Eldo panjang lebar, membuatku salah tingkah.

‘Jadi kakak suka sama Neta karena sikap konyol Neta? Gitu?! Jadi kakak seneng ngelihat Neta malu? Iya kan?! Waaah kak Eldo jahat,’ tanyaku tidak santai.

‘Hahaha. Muka lu pas lu menderita tuh lucu Net,’.

Terdiam sejenak. Aku bingung berkata apa. Tiba-tiba langsung keluar saja pertanyaan dari mulutku, ‘Jadi kakak suka Neta kan? Kenapa kakak nggak nembak Neta?’.

‘Nembak lu? Iwuh,’ kak Eldo kembali tertawa melihat muka ku yang malu. ‘Net. Gue suka sama lu. Emm… jadi pacar gue, mau?’

‘Enggak!’

‘Loh? Kok nggak mau?!’

‘Abis disini nggak ada temen Neta. Nanti kalo Neta cerita, mereka nggak percaya ama Neta. Makanya nembaknya pas ada temen Neta ajah hahaha,’ aku hanya basa-basi.

‘Ih apaan sih lu hahaha iya deh iya Net!’ Eldo pasrah.

‘Bercanda kok kak. Masa iya Neta nolak orang yang Neta sukain? Neta mau jadi hmm… pacar kakak,’ akhirnya aku lega mengucapkan itu.

Lalu restoran itu aku nobatkan menjadi tempat bersejarah karena Eldo menyatakan cintanya. Setelah dari restoran, kami pergi ketempat studio photo. Memotret beberapa foto. Menyenangkan. Terimakasih teman-temanku, hadiah darimu diulang tahunku adalah anugerah terindah yang sekarang kumiliki…




NB:
cerpen ini dibuat khusus untuk memenuhi tugas Bahasa Indonesia dari Ibu Hani (jreng). tugasanya : membuat cerpen dari kisah nyata, tapi boleh di bumbuhi dengan hayalan. percaya nggak percaya, Ibu Hani tahu siapa orang yang dimaksud, yang namanya disamarkan menjadi "kak Eldo"! jelas gue shock. Ibu itu ngajar juga dikelasnya "kak Eldo", so, gue takut ajah membeberkan kisah cinta ini. walaupun pada ujung-ujungnya "kak Eldo" itu tahu siapa dan perasaan gue...