Tuesday, March 6, 2012

something doesnt belong

Aku hanya bisa tertunduk menatapi kedua ujung stiletto peach pucat ini. Kamu tetap berusaha memanggil namaku walaupun tak ada respon seperti yang diharapkan. Aku masih ingat bagaimana kamu datang dikelilingi sahabat kamu. Sahabat kita. Tampilanmu sama seperti biasanya. Selalu menjadi magnet untuk mataku sehingga kemana pun mataku menyapu pandangan, pada akhirnya selalu berujung di wajahmu.

Dari sudut mata, kulihat kamu mendekat. Aku semakin yakin kamu berjalan kearahku setelah teman disisiku memberitahu. Aku meneruskan sandiwara melamun di pesta yang seharusnya membuat moodku membaik. Akhirnya, aku sudah melihat sepatu hitam berhadapan dengan stiletto-ku. Sangat serasi. Aku sudah menyiapkan skenario ini: dimana kamu berjalan kearahku dan mengajakku berbicara seperti biasa. Seperti tanpa ada sesuatu yang telah terjadi. Ini kah caramu bersikap dewasa menghadapi aku?

Mau tak mau aku harus menatapmu setelah kamu mengayunkan kelima jarimu didepan wajahku. Kamu sengaja membiarkan manik matamu bertemu punyaku. Membiarkan aku mengingat kembali hal bodoh dan kekanak-kanakan yang telah diperbuat.

“Hai, Na! Udah lama disini?” itulah katamu setelah apa yang telah terjadi. Setelah kadar kejujuranku meningkat hebat waktu itu. Menurutku, setelah aku memberitahumu apa yang kualami, penyakit salah tingkah ini berkurang. Namun, dugaanku salah. Walaupun aku sudah berterus terang padamu rasa cinta yang seharusnya tak ada di persahabatan ini, hasilnya pun nihil. Yang ada hanya perasaan malu yang semakin menjadi-jadi setelah pernyataan cintaku itu atau mungkin lebih tepatnya disebut ‘penembakan’.

“Hai, Lang. Hmm, lumayan lama lah.” Ucapku hati-hati diiringi senyum yang tak tahu untuk siapa. Gilang, sudah berapa hari kita tak berbincang? Aku hanya ingin kita seperti dulu.

“Na, keluar yuk!” Apa yang harus kulakukan? Mengikuti sesuai perintahmu atau tetap berdiri disini menjalani sandiwara melamun lagi? Kamu hanya memberiku waktu sekejap untuk melakukan monolog dipikiranku, selanjutnya kamu menggenggam tanganku. Cara yang sama dimana kamu menggenggam tanganku juga saat bermain dengan sahabat kita yang lain.

“Rena,” i love the way you called my name, Gilang. Aku tahu sekarang saatnya aku berbicara. Aku tahu kamu menuntut jawaban dariku setelah kamu bertanya, “Ada apa sama kamu? Kenapa kamu terlihat menghindar dari aku?”

Aku sudah siap menjawab semua pertanyaan. Tapi, seluruh kata-kata tercekat di tenggorokan. Tak mampu dikeluarkan. Mataku mulai lembab. Air mata sudah membendung di bagian bawah mataku. Teringat semua penderitaan yang aku jalani selama memiliki rasa cinta ini. Terus dan menerus salah tingkah dan bersikap tak kenal padamu. Disaat yang lain bercengkrama, hanya aku yang terus melamun bila sahabat-sahabat kita berkumpul.

“A... Aku...,” akhirnya air mataku jatuh tak tertahankan. “Aku merasa bersalah sama apa yang aku rasain, Lang. Aku nggak tahu kapan dan kenapa rasa suka aku ke kamu itu muncul. Aku juga nggak mengharapkan cinta ini ada. Aku kira kalau aku bilang ke kamu soal itu, perasaanku akan lega. Tapi, ternyata...” tangisku meledak. Malu. Sakit. Lelah. Semua perasaan berkombinasi hingga membuat hidupku gelap sempurna.

Kamu masih menatapku lekat. Sedikit memiringkan kepala agar wajahku
yang tertunduk terlihat. “Gilang, aku mau kita kaya dulu. Aku mau kita seperti dulu. Seperti sahabat lagi. Aku dan kamu.” Kamu pun mengangguk tanda mengerti. Tersirat seulas senyuman pengertian diwajahmu. Kamu tahu bagaimana cara mengatasi aku.

“Na, sebenarnya nggak ada yang salah dengan apa yang kamu lakuin. Kamu Cuma menyatakan cinta kamu. Itu baik kok, karena kamu udah jujur. Nggak munafik, kamu tahu? Yang kamu butuh itu hanya waktu.” Kamu berhasil meraih kepalaku dan mengarahkan ke dekapan tubuhmu. Sebuah pelukan yang hangat. Pelukan sebagai seorang kawan lama.

Kamu dan aku. Kita berdua saling mengerti dengan kondisi perasaan masing-masing. Kamu tahu, apa yang perlu kita lakukan bukanlah menjauh. Melainkan memberi kesempatan pada sang waktu untuk melenyapkan perasaan yang salah di hatiku. Dengan kenyataan kamu disini, aku yakin kita bisa berjuang melawan cinta yang hampir menodai persahabatan kita.

***

Monday, January 9, 2012

If I Say: part 4

Sam melambaikan tangannya didepan pelupuk mata. Membuyarkan lamunan dan membuat aku sadar kembali. “Hah? Eh? Kok lo ngomongnya gitu sih, Sam. Jangan ngaco deh! Udah balik sana. Ada Mary menunggu.” Aku menggodanya hanya untuk menutupi kegirangan hati.

“Gue suka sama lo, Mon,” jawabnya yakin. “Bukan Mary.” Lirih.

“Tapi...” aku kehabisan kata-kata, tak percaya. “Tapi lo kan selama ini suka sama Mary, Sam!”

“Kapan gue pernah bilang kalo gue suka sama tuh cewek!?” sorotan matanya tajam bagaikan sebilah pisau yang bersiap menikamku. Ia mulai dikuasai amarahnya. Mencerna kalimat Sam, aku sadar. Ya ampun! Dia benar! Sam tidak pernah mengatakan bahwa dia suka sama Mary. Bodohnya diriku. Aku hanya dikuasai oleh perasaan khawatir dan cemburu. Sehingga pikiranku gelap dan buta. Aku bergeming.

“Lo masih inget pas kita chatting dan gue ngirim foto lo yang gue ambil diam-diam?” Ya, aku ingat Sam. Aku ingat kejadian manis itu. Sangat jelas tertera di memori saat ia mengirim fotoku ketika kami sedang hunting foto. Disana, tergambar aku sedang memotret sebuah objek dengan sangat serius. Kelihaian tangannya membuat foto itu menjadi indah.

Aku mengangguk. “Itu Cuma 1 foto dari ratusan foto tentang lo, Mon.” Ucapnya lembut.

Bagaikan turun hujan ditengah kemarau panjang, momen ini sangat kuharapakan. Namun, aku tak kuasa melihat air mata teman baruku jatuh karena ulahku sendiri. Aku tak tega melihat Mary murung. Dia sangat bersemangat ketika tahu Sam mencintainya. Mungkin dia akan bersemangat juga bila tahu sebenarnya Sam menyukaiku. Bersemangat bunuh diri, maksudnya.

“Tapi, kalo lo suka dari awal, kenapa lo nggak nembak gue sebelumnya?”

“Lo yang nggak pernah ngasih gue kesempatan, Mona!” Sam mencengkram kedua bahuku. Aku menatap kedua mata cowok itu. Tersirat rasa lelah. Sepertinya ia sudah tak mampu menjalani sandiwara ini. Tak mampu lagi menambah kebohongan-kebohongan lain. “Lo masih inget chatting-an kita semalam? Gue pingin jujur sama lo. Tapi lo malah memotong pembicaraan! Gue capek ngikutin semua skenario lo, Mon! Disaat gue jujur, lo menganggap gue bohong. Begitu pun sebaliknya. Makanya gue terima permainan lo ini.”

Betapa kejamnya aku. Kuabaikan pandangannya. Tak mampu menatap balik padanya. Aku benar-benar tak kuasa melihat Sam seperti ini. Hancur karenaku. Masih mengcengkram kedua bahuku, “Mona,” ucapnya lembut.

Aku menepis kedua tangan yang bersandar dibahuku. Terlihat dari sudut mataku, Sam kaget dengan reaksi yang aku berikan. Aku bingung keputusan apa yang harus kupilih. Melihat orang lain bahagia disaat aku terpuruk, atau melihat aku bahagia disaat seseorang disana menangis pilu.

“Tembak dia, Sam.” Ucapku lemah. Terdengar nada suaraku mulai bergetar. Menahan tangis yang segera meledak. “Lo tau dia cinta sama lo dan lo merespon dia.” Aku mengambil napas. Benar-benar sulit mengeluarkan kata-kata yang ada dihati. Setiap kata terasa tertahan di tenggorokan. “Kalo memang benar lo suka sama gue, kenapa nggak dari awal lo nolak gue deketin sama Mary?”

“Gue...” ia berhenti bicara. Sepertinya merangkai kata. “Gue pikir kalo gue mengiyakan semua tawaran lo, gue bisa makin dekat sama lo.”

Sebenarnya apa lagi yang kutunggu? Sam mencintaiku dan begitu pun sebaliknya. Tapi, semakin aku mau menerima Sam, semakin sering terbayang wajah Mary.

“Lo udah ngasih harapan ke Mary. Jangan buat itu menjadi harapan kosong. Di beri harapan kosong itu lebih sakit lho, daripada nggak di respon sama sekali.” Hatiku mencelos. “Memang perbuatan gue salah, menghakimi lo seenaknya. Tapi, gue yakin tindakan lo sama salahnya kalo lo ngasih harapan palsu ke cewek itu.” Aku menunduk dalam. Berusaha menyembunyikan mataku yang mulai memerah.

“Tapi, mon...”

“Plis, Sam. Tembak dia.” Keputusanku sudah bulat. Aku tidak mau melihat temanku kecewa. Sam, kalau kita memang orang yang dipertemukan untuk bersama, suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi. Ini hanya masalah waktu. ”Demi gue.”

“Mona?” Sam tidak percaya dengan apa yang kukatakan. Wajar. Aku sendiri tak percaya dengan kalimat bodoh yang kulontarkan.

“Tembak dia, demi gue.”

Kami berdua memang sama-sama naif. Hanya karena ketidakpunyaan keberanian, cinta kami tak menyatu. Aku dan Sam berdiri diam. Membiarkan orang-orang berjalan-jalan di sekeliling. Suara celoteh pengunjung maupun ocehan sales tak lagi terdengar. Hanya degup jantungku yang bisa terjangkau telinga. Aku merasa lututku sudah tak mampu menompang tubuh. Bisa saja aku jatuh pingsan sewaktu-waktu.

Kulihat Sam, dia masih menatapku dengan tatapan sedih. Ia terlihat seperti sedang berpikir. Aku masih diam. Menahan air mata yang akan terjun bebas. Aku benar-benar tak kuasa berbicara lagi. Keluar satu kata lagi dari bibirku akan membuat tangisku meledak.

Sam yang terlihat kacau, perlahan tersenyum. Senyuman dalam sedih. Senyuman dalam penderitaan. Lalu ia mulai membuka mulut. Sungguh, aku tak ingin mendengar apa yang ia katakan.

“Oke, kalo itu yang lo mau. Gue akan nembak dia. Demi lo.” Ia memberikan senyumannya yang khas. Senyuman yang melambangkan tidak terjadi apa-apa aku dan dirinya. Sam pun balik badan. Meninggalkanku yang sedang menunduk menatap dasar bumi. Bahuku terguncang-guncang. Ya, aku menangis.

Sam, jangan berikan senyum sedihmu lagi padaku...

***

To be continued

Sunday, January 8, 2012

aman

WOW! Udah lama banget gue nggak nulis hasil campur-menyampur hal dunia nyata dan dunia khayal. gue punya cerita yang, menurut gue, unik. Hari ini, pas pulang dari rutinitas baru gue tiap sabtu minggu: mengunjungi rumah kakak, gue mengamati beberapa orang yang menarik.

Pertama, ini kisah dua orang pemuda-pemudi di tepi pasar. Pas sedang duduk terkantuk-kantuk di angkutan kota, gue dibuat melek seketika oleh dua insan yang sangat romantis itu. Mau tau kronologinya?  Cekidot!!

Di pinggiran jalan raya dekat pasar, ada 3 remaja sedang berjalan ke arah yang berlawanan dengan gue: 2 cowok dan 1 cewek. Posisinya si cewek itu ditengah. Dari penampilannya, mereka itu anak dance deh atau nggak anak gaul. Kenapa? Soalnya mereka pake sepatu SB merk Nike atau Supra gitu.

Yang menyita perhatian gue adalah perlakuan seorang cowok yang paling tinggi ke cewek.  Cowok itu menutupi mata cewek―yang tentu saja lebih pendek darinya―dengan tangan kanannya. Jadi, cewek itu berjalan dituntun ama cowok! Romantis ga? Romantis kan? Iya kan? Bilang iya plis. Awas ajah kalo bilang nggak. Tabok nih!

Lanjut! Pemikiran pertama yang terlintas di otak gue adalah: mereka lagi merayakan anniversary. Terus si cowok bikin kejutan, tapi biar kelihatan surprise si cewek ditutup matanya. Nah pas cewek itu buka mata, si cowok bilang “SURPPRISEEE!!”. Dan cewek pun terkaget-kaget karena didepannya banyak penghuni pasar―tukang sayur, tukang daging, tukang emas, engkoh-engkoh dll―yang memegang bunga mawar. Mereka pun mau karena hasil rayuan, bujukan dan taktik tampang melas cowok itu. Okay, ini Cuma khayalan gue.

Setelah berhasil menebak-nebak kenapa mereka bermesra ria seperti itu di tempat yang tidak tepat, gue dapet jawaban  terbaik gue! Ternyata oh ternyata, daerah deket mereka jalan itu ada ambulan dan ada yang meninggal. Let’s say Inalillahi wainaillaihi rojiun. Tebakan gue sih, si cewek takut melihat ambulan dan hal-hal yang berbau kematian. Mungkin. Karena temen gue pun ada yang seperti itu.

Karena takut, kaum hawa itu bilang, “demi apa itu ambulan? Ah gue takut! Jangan lewat sini ya, plis. Gue takut nih,”

Setelah berpikir-pikir, akhirnya cowok itu membuat keputusan, “Yah. Nggak ada jalan lain. Ini udah deket kok. Kita jalan terus ajah ya?”

Si cewek benar-benar merasa di puncak ketakutannya dan dia bersikeras menentang ide gila pacarnya. “Tapi..”

Belum selesai berbicara, cowoknya punya ide yang tepat. “kita tetep jalan. Gue tutup mata lo sama tangan gue. Jadi lo nggak ngeliat ambulan itu. Gimana?” dengan pasrah, si cewek menuruti kemauan pacarnya yang tersayang itu.

Kehangatan yang diberikan melalui jemari pacarnya yang menutupi matanya itu memberikan rasa aman yang meredakan takut. Sangat nyaman.

Merasa cewek yang ada dilindungannya masih sedikit merasa ketakutan, ia berpikir lagi bagaimana menenangkan ceweknya. “Nggak usah takut. Lo aman di samping gue.” Bisiknya tegas namun tersirat lembut. Terukir senyuman diwajah ceweknya. Dan mereka berjalan santai melewati daerah duka.

***
Selesai! Itu lah hasil khayalan gue tentang dua pemuda-pemudi yang sesuatu itu. Sebenernya yang masih bikin gue bingung itu adalah... apa peran si cowok yang satunya?

sekian

Friday, January 6, 2012

If I Say: part 3


“Laper nih,” Erick terlihat meremas perutnya. “Makan dulu yuk! Mainnya nanti lagi.” Kami berlima―Mary, Sam, Erick, Julie dan aku―sedang berada di pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Dalam rangka ulang tahun Erick, aku dan yang lain―yang merupakan teman kursus Erick―di traktir menonton film dan makan siang.

Sebenarnya aku sama sekali tidak berniat hadir. Memang pada awalnya  sangat bersemangat. Namun, kejadian semalam membunuh mood-ku. Peristiwa itu, lagi-lagi, terjadi karena kebodohanku.

Pada malam itu, aku membuka laptop. Tujuan utamanya untuk mendownload beberapa lagu. Aku mencoba menyuri waktu untuk melihat kontak Sam di social network tersebut. Offline tertera di atas namanya. Padahal aku sangat berharap ia sedang online dan memberi pesan terlebih dahulu. Tapi, harapan adalah harapan. Kadang tercapai, kadang pupus begitu saja.

Ditengah proses mendownload, terdengar bunyi peringatan pertanda ada yang baru online dan itu Sam. Wow! Cepat sekali Tuhan mengabulkan permintaanku. Seperti yang kutebak, tak lama Sam mengirim pesan. Menanyakan kehadiranku pada acara ulang tahun Erick pada esok hari. Aku menjawab aku datang. Tiba-tiba jemariku mengetik kalimat yang, benar-benar, tidak mau kukatakan. Tapi mengapa ini? Bodoh!

Mona : sam, besok kan ada mary
Nah knp ga lu tembak ajah sekalian?
Samuel : ha? Tembak?
Mona : iya. Nembak
Kelamaan pedekate lu!
Kasian tuh cewe di gantungin mulu ama lu
Samuel : mon, gue sama sekali ga kepikiran buat nembak dia akhir2 ini
Nanti ajah ya
Mona : skrg atau nanti apa bedanya?
Samuel : mona, gue
Mona : udahlah sam
Lu berdua kan saling suka. Nunggu apa lg?
Samuel : okeh kalo itu mau lu
Mona : loh ko mau gue?
Itukan kemauan kalian
gue Cuma jadi perantara ajah :)
***

Akhirnya Erick memutuskan restoran mana yang akan menjadi tempat pengisian perut. Aku berfirasat bahwa Sam akan mengatakan 3 kata itu di saat-saat seperti ini. Saat menunggu pesanan datang.

“Guys, gue ke sana sebentar ya,” aku menunjuk sebuah toko baju. Dustaku. Sebelum meninggalkan tempat, aku tersenyum kepada Sam dan mengucapkan, “It’s your time.” Tanpa suara dengan artikulasi yang jelas. Lalu berjalan keluar. Entah kemana, aku sudah lupa alasan kepergianku. Berjalan ditengah lalu lalang orang-orang dengan tatapan kosong. Tak ada semangat. Tak ada gairah. Membiarkan waktu terus berjalan. Pikiranku melayang pergi. Memikirkan kata-kata yang akan kurangkai untuk ucapan selamat nanti. Tenggelam jauh dalam kesedihan sampai ada seseorang menarik lenganku.

Rambut yang sedikit berantakan dengan senyum ramah menganggumkan. Raut wajah yang lelah tidak mampu menyembunyikan ketampanannya. Sepertinya ia mengejarku.

“Ada apa, Sam? Lho, kok lo disini?”

“Gue bilang ke mereka kalo gue mau ke toilet.” Ia menghela nafas. Cowok itu tersenyum dan menaikkan kedua alisnya. Di saat-saat seperti ini, mengapa aku masih sempat terpesona olehnya?

“Toilet kan disana.” Menunjuk arah yang berlawanan.

“Iya gue tau kok,” Aku memasang muka bingung. Jujur, aku tak mengerti maksud manusia ini. “Gue pingin ketemu lo.” Mimik muka berubah menjadi serius seketika.

“Ngapain emang? Lah kan sekarang waktunya lo nembak dia, Sam. Tadi kan gue udah ngasih tau. Nanti kalo nggak ada waktu lagi gima...”

“Mona, gue nembak lo ajah ya.” Mulutku terbuka tak disadari. Aku masih menatap dia dengan ketidakpercayaan. Bisa dirasakan, hatiku meletupkan ribuan kembang api. Kaget, bingung dan senang. Suatu kombinasi perasaan yang mencapai keseimbangan. Ya, keseimbangan hidup. Tuhan, aku memang mengharapkan ini. Tapi tolong jangan kau biarkanku mengakhayal terlalu tinggi, aku takut bila terjatuh. Aku sadar aku harus bangun dari mimpi indah yang mungkin hanya dapat dirasakan sekali selama jantung berdetak.
 *** 


to be continued...

Kahlil Gibran - Lagu Gelombang

aku telah bernyanyi untukmu
tapi kau tidak juga menari
aku telah menangis di depanmu
tapi kau tidak juga mengerti
haruskan aku menangis sambil bernyanyi?

Monday, January 2, 2012

If I Say: part 2


8 bulan kami―aku dan Sam―berteman, hubungan kami semakin dekat. Namun, hanya sebatas teman. Aku mencoba untuk menahan perasaanku yang tak karuan. Beberapa hal aneh terjadi pada raga ini. Aku mulai senang menerima pesan singkat dari Sam. Sangat nyaman bila bercengkrama dengannya. Aku tahu jelas perasaan yang sedang kualami. Perasaan manusiawi yang timbul bila orang itu tertarik dan merasa nyaman terhadap orang yang lainnya. Aku mencoba menangkis rasa itu. Apadaya, usahaku sia-sia. Aku mulai mencintainya.

Aku masih bersikeras membuang jauh-jauh rasa cintaku pada dia. Perasaan yang tak wajar, bahkan tak kuharapkan sama sekali kedatangannya. Rasa cinta ini hanya penganggu apalagi bila tak terbalas. Dan aku semakin ingin memusnahkan perasaan ini ketika tahu dia mulai tertarik dengan orang lain.

Kuberikan minuman kaleng isotonik padanya. “Nih Sam!”. Kami duduk di kantin, terletak meja panjang putih di depannya.

“Trims,” ucapnya tersenyum dan mengambil minuman ditanganku. “Oh iya, lo tahu nggak anak cewek baru yang ada di tempat kursus kita?”

Aku mengambil posisi duduk tepat di depannya. Di sepanjang meja itu kosong, hanya kami berdua yang menempatinya. “Iya tahu,” aku mengangguk. “Siapa namanya? Me... Ma... Aduh lupa.” Aku tertawa renyah menutupi malu karena tak pandai mengahapal nama seseorang.

“Mary.” Jawabnya. Aku teringat dengan siswi baru yang berparas indah. Mata birunya sangat mengagumkan. Rambutnya yang bergelombang kecokelatan dibiarkan terurai dengan indah dibalik punggungnya. Anggun. Kulitnya yang kuning langsat pun mulus tak bernoda. Benar-benar wanita yang diidolakan kaum adam.

Semua cowok di kelas heboh membicarakannya. Aku kira Sam satu-satunya cowok yang tak begitu tertarik dengan “Barbie” itu. Karena saat semua orang sibuk menganggumi manusia berparas bidadari, hanya Sam yang duduk dalam diam di sampingku. Dugaanku meleset. Sam tak lebih seperti semua lelaki yang menganggumi wanita cantik.

“Nah iya Mary!” aku tertawa kembali. Entah mengapa, saat aku bersama Sam, yang ingin ku lakukan hanya tertawa. Salah tingkah, mungkin. “Emangnya kenapa, Sam?”

“Nggak, nggak apa-apa.” Ucapnya tersenyum. Manis sekali.

“Ah masa? Lo suka ya?” Godaku. Begitu spontan.

Dia tersedak minuman. Mungkin dia tak menyangka aku akan menggodanya. “Apa sih lo! Rese.” Jawabnya dengan sedikit kesal.

“Kalo suka, bilang ajah kali Sam. Nggak usah ditutup-tutupin,” aku makin bersemangat menggodanya. Lalu aku menepuk pundaknya, “Masih kaku ajah lo ama gue.”

“Apa deh lo, Mon.” Sam pasrah. “Hmm... By the way, si Mary cantik ya?” ucapnya sedikit nada ragu tersirat.

Kali ini aku yang tersedak. Tak menyangka Sam akan mengeluarkan pertanyaan―mungkin lebih tepat disebut pernyataan―seperti itu. Bingo! Dia membuat orang yang berada di depannya patah hati. Bisa kurasakan, hati ini mulai runtuh menjadi partikel-partikel terkecil di alam semesta. Patah hati untuk orang yang sedang jatuh cinta memang wajar. Aku percaya, setiap orang yang pernah jatuh cinta pasti pernah patah hati juga.

“Lo kenapa, Mon? Pelan-pelan dong Mona minumnya.” Sam meninggalkan kursinya. menghampiri lalu mengelus punggungku. Aku, yang hidungnya masih sakit karena tersedak, berdebar-debar. Suara Sam yang begitu hangat terasa dekat. Sepertinya, bibir Sam hanya berjarak beberapa milimeter dari cuping telingaku.

Kalau memang kau mulai tertarik dengan orang lain, mengapa kau masih bersikap manis padaku, Sam? Tak kasihankah kau padaku? Apa kau sengaja membiarkanku memiliki harapan kosong?

“Gue nggak apa-apa kok,” mengangguk pelan. “Tadi cuma keselek doang.” Aku tertawa dengan suku kata yang jelas. Terdengar sangat dipaksakan. “Iya, Mary cantik. Seengganya lebih cantik daripada gue.” aku memberikan lelucon, yang sepertinya terdengar tak lucu.
***

Sekarang aku semakin tak mengerti apa yang kurasakan. Harus diakui, aku memang tak suka Sam mencintai perempuan lain. Namun, perasaan dan badan ini tak sejalan. Aku malah membantu Sam mendekati Mary. Dan mulai menampung semua curahan hati Mary. Belakangan ini kami memang cukup dekat. Mary dan aku sama-sama menyukai film drama musikal. Akhirnya, kami sering meluangkan waktu untuk menonton film dan sekedar berbincang-bincang tentang kedekatan Mary dan Sam.

Seiring waktu, aku dekat dengan Mary, begitu pun hubunganku dengan Sam. Dua orang ini saling menyukai. Kehadiranku tak boleh menjadi dinding besar yang menghalangi mereka. Di satu sisi, dimana Mary terus bercerita tentang kemajuan hubungannya dengan Sam, aku dengan polos tersenyum. Membiarkan deretan gigi menutupi kepedihanku. Lalu, ketika sadar hanya ada aku dan Tuhan, aku membiarkan air mata jatuh tak tertahan dan menyesal apa yang telah kuperbuat selama ini. Namun, sudah terlambat untuk mengakhiri. Aku terlalu jauh membantu mereka.

Aku bukan lagi diriku. Aku bagaikan robot yang tak berperasaan. Membiarkannya semua mengalir. Membiarkan apa yang kulakukan menyakiti hati ini. Aku bodoh. Pengecut. Dan satu lagi.
Munafik.
***


to be continued
 

Friday, December 30, 2011

U A S

Tepatnya 3 minggu yang lalu, sekolah mengadakan pekan UAS (Ujian Akhir Semester). Selama seminggu itu gue nggak bersentuhan dengan laptop dan teman-temannya. Puasa nge-blog, puasa nge-tweet, puasa ramadhan #eh.

Seperti biasa, kalau UAS pasti mengerjakan soalnya dengan membuat kertas menjadi bercorak polkadot alias menghitamkan bulatan-bulatan. It’s so exhausting. Jari manis gue bengkak dan bengkok, malah harus diselimuti hansaplast biar nggak tambah bengkak. Wow!

Entah karena efek bodoh atau efek malas membaca soal, ada beberapa pelajaran―lebih tepatnya hampir semua pelajaran―gue nanya sama teman gue yang duduk di belakang. It’s my honest confession... eits! Jangan lihat gue sebelah mata gitu dong. Gue masih mikir kok. Pelajaran yang kayaknya gue nggak nyontek itu tuh : Matematika, Fisika, Kimia, English. Hebat kan? Hebat dong! Iya kan iya dong?!

Pelajaran vital yang paling paling buat gue angkat tangan adalah BIOLOGI. Ya Allah, kenapa harus ada biologi di dunia ini? Kenapa harus mikirin tumbuhan dan hewan, kalau mikirin diri sendiri ajah masih nggak becus? Kenapa juga harus peduli sama sel-sel yang nggak keliatan, kalau masih ada manusia―yang sudah jelas kasat mata―yang butuh kepedulian kita? #asek

Buat biologi lovers, peace ya! Lagi-lagi semua terpaut akan sudut pandang...

Pas UAS biologi, gue nggak baca itu soal. Tinggal menunggu waktu berjalan. Kalau sudah cukup lama, baru deh nengok ke belakang. Salah gue juga sih, malamnya gue nggak belajar tuh pelajaran. Malah milih pelajaran lain yang lebih menarik. Karena bingung mengisi waktu sambil menunggu jawaban teman kelar, akhirnya gue memutuskan untuk mencorat-coret lembar soal (bukan lembar jawaban lho!). JENG JENG JENG! Terciptalah hasil karya seni maha dahsyat  yang tidak kalah indahnya dengan lukisan Vincent van Gogh (okay, anda boleh muntah saat membacanya). And this is it!


 diedit sikit nih gambarnya. cuma diatur brightness dan levels. 
trus dikasih halftone pattern ama lighting effect :3. lebih mirip gambar anak TK ya?




Cerita ketika ujian biologi, beda banget banget saat ujian English. Bisa dikatakan, nasib gue makmur abis pas ulangan yang satu ini. Guess what! Gue punya lebih banyak waktu untuk merealisasikan bakat gue yang terpendam: corat-coret soal ulangan. Eits! Tunggu dulu. Dont think negatively about me first! Gue punya kesempatan buat corat-coret karena gue cepat mengerjakan soal english tersebut. I think it was easy. Yaa walaupun pada akhirnya gue Cuma bisa dapet score 72 buat mata pelajaran ini. HIKS! Gue yakin, pasti ini semua karena polkadot hitam yang annoy abis! Inilah hasil karya gue yang nggak kalah sama pelukis tersohor nusantara, Affandi. Huahuehuauhue.

kalo yang ini cuma diatur sharpen-nya doang :3



so, gue nggak boong dong kalo gue gambarnya di kertas soal beneran? kalo digambar biologi, di pojok kiri bawah ada keterangan soal. kalo di gambar english, di atasnya ada contoh soalnya. hahuhehuahe

Friday, December 9, 2011

If I Say: part 1

Seperti biasanya, hujan turun tanpa diduga. Aku masih termangu dengan badan sedikit basah karena menerobos hujan. Di dalam ruangan yang tak begitu luas, aku duduk ditemani suara mesin pendingin ruangan bersama beberapa teman saja karena yang lainnya belum datang. Mungkin hujan menyebabkan mereka akan telat mengikuti kursus fotografi hari ini. Begitu pun Sam. Ia―yang merupakan temanku satu-satunya yang berasal dari sekolah yang sama di kursus ini―tak kunjung datang.
           
Tiga menit sebelum bel, Sam datang dan duduk disampingku. Wajahnya selalu cerah begitu membuka pintu ruangan, begitu lah caranya menyapa teman-temannya. Ia memang orang yang ramah. Ku akui itu.
           
“Hai Mon.” sapanya untukku.
           
Aku balas tersenyum. Malas mengangkat mulut yang mulai menggigil. Aku benci pendingin ruangan itu. Sepertinya, teman-teman di sekeliling akan melihatku mati perlahan karena kedinginan.
           
Ditengah pembahasan mengenai penggunanaan diafragma dan speed yang tepat, Sam menyentuh lenganku dengan  sikutnya. Aku tahu, itu adalah aba-aba ia ingin bicara sesuatu.
             
“Apa?” aku menoleh.
             
“Lo kenapa, Mon?” jawabnya tanpa melihatku. Pandangannya tetap tertuju pada papan tulis.
             
“Hah? Apanya yang kenapa?”
             
“Daritadi lo diem ajah, bro.” Nadanya ramah. Dia menoleh padaku.
             
“Oh. Kedinginan gue Sam,” aku tertawa. “Tadi gue sempet kehujanan terus sekarang AC-nya mantap banget nih! Hehe.” Ujarku panjang lebar.
             
“Oh karena itu. Gue kira kenapa. Mau pakai jaket gue?” dia menunjukkan jaketnya yang sedang dipakainya.
             
“Hah? Eh?” aku menjawab seadanya. Kaget.

“Nih.” Sam mulai melepaskan jaket dari lengannya. Saat ia hendak melepaskan jaket itu dari lengannya yang lain, aku mencegah. 

Sebenarnya aku tidak benar-benar menolak pemberiannya. Siapa sih manusia di dunia ini yang menolak sesuatu yang sangat berguna bagi dirinya? Hanya saja, aku takut. Takut jikalau menerima pemberiannya, nanti makhluk diruangan ini akan meledek bahwa kami pacaran. Aku tidak suka diledek. Aku lemah saat berada diposisi itu. Hanya bisa tersenyum memperlihatkan deretan gigi. Aku bahkan tidak bisa tidak mengeluarkan ekspresi sekeras apapun usahaku. Tindakan itulah yang membuat orang punya persepsi yang salah. Entahlah, itu urusan mereka di dunia mereka.

Guru-guru ditempat kursus ini juga sering menggoda aku dan Sam. Karena aku satu-satunya orang yang tahu kenapa cowok itu tidak hadir. Padahal alasan yang sebenarnya mengapa aku tahu adalah karena kami satu sekolah. Kami sering bertemu. Namun menurutku, Sam tak mengindahkan mereka yang terus menggoda. Kalau Sam bisa tak mengacuhkannya, mengapa aku tidak? Ya ampun, ada apa denganku?!
             
“Eh! Nggak usah, Sam. Sumpah deh nggak usah,” aku melepaskan genggaman tanganku di pergelangan tangan cowok yang disampingku. “I will survive, kok.” Jawabku meyakinkan.
             
“Oh yaudah.” Jawabnya seadanya. Mungkin kecewa karena sikapku, mungkin juga tidak.
***

Tahun pertama di sekolah membuatku ingin sekali membenturkan kepala ini pada dinding kamar. Tugas yang menumpuk menjadi faktor utama kadar stressku meningkat. Bagaikan ultimatum, guru mengeluarkan kumpulan tugas dari mulutnya tanpa rasa bersalah.
             
Jarum panjang jam sudah kearah angka sebelas. Tepatnya, jam sebelas malam. Seharusnya, jam-jam seperti ini aku sudah terbaring nyaman di tempat tidur dan sedang menikmati indahnya euforia bunga tidur serta menganggumi cantiknya bunga-bunga di padang Kashmir. Untuk kali ini, aku relakan angan-angan itu. Aku relakan hanya untuk menyelesaikan makalah walau dengan setengah hati.           

Saat sedang mengetik, tiba-tiba kotak chatting terbuka. Ada seseorang mengirim pesan untukku. Aku baru sadar bahwa sejak tadi status kontakku dijejaring sosial itu adalah online. Di kotak pesan itu tertera nama Sam. Ya, aku tak salah baca. Akhir-akhir ini kami memang lebih sering chatting daripada mengirim pesan singkat. Hemat pulsa, katanya.
           
Samuel : mon, kok belum tidur jam segini?
Mona : iya nih sam. Lagi ngerjain tugas pak jo.
Yg makalah itu lhoooo.
Ga kelar2 nih hehe
Samuel : oh yang itu.
Diterusin besok aje kali mon.
Sekarang lu tidur ajah
Mona : nanggung ah sam. Besok mau gue kumpulin
Samuel : mending lu tidur. Nanti mata lu berair lho
Mona : ha? Kok berair?
Samuel : iya. Kan mata lu kecapean. Jadinya berair mon.
gamau kan? Tidur ya?
Mona : iya deh sam. Gue duluan ya tidurnya. Bye..

            Ada apa dengan Sam? Kenapa ia menjadi begitu perhatian denganku? Apa mungkin hal seperti itu merupakan hal yang biasa sebagai seorang teman? Atau aku saja yang terlalu menganggapnya berlebihan, benarkah?
***


to be continued 

Saturday, December 3, 2011

Pramoedya A. Noer

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
-Pramoedya Ananta Noer-

Oky Puspitosari

"Sejarah bukan sekedar hapalan maupun tulisan,
melainkan belajar mencari makna dibalik sebuah peristiwa."
-Oky Puspitosari, guru sejarah SMAN 3 DEPOK-




"Melalui tulisan bisa mengubah cara berpikir sesorang."
-Oky Puspitosari, guru sejarah SMAN 3 DEPOK-




"Kalau ditanya : berapa persentase jiwa nasionalisme saya? saya akan menjawab: 100%.
Karena, nasionalisme bukan sebuah tujuan, tapi nasionalisme adalah sebuah proses."
-Oky Puspitosari, guru sejarah SMAN 3 DEPOK-




"walaupun tinggal di negeri orang yang sedang dilanda hujan emas,
saya lebih baik tinggal di negeri sendiri."
-Oky Puspitosari, guru sejarah SMAN 3 DEPOK-




"Pemuda adalah agen perubahan!"
-Oky Puspitosari, guru sejarah SMAN 3 DEPOK-

Thursday, December 1, 2011

Theo Argio

"kalau lo nggak pacaran, itu berarti menyakitkan.
karena tujuan cewek dan cowok diciptakan tuh ya untuk bersama.
kalau nggak pacaran berarti lo cuma punya satu hati."

kutipan novel Touché


gue bener-bener serius dalam merekomendasi buku ini ke lo-lo yang hobi baca novel. entah mengapa, lo bakal ngerasain menjadi time traveler sesaat ketika baca Touché.
buku ini dimulai dengan cerita 2 murid SMA yang tak sengaja bertemu dengan sang pemilik arloji dari masa lalu! lalu mereka bertiga akan mengajak anda semua pergi ke dimensi waktu yang berbeda. 3 remaja itu menemui Archimedes, Charles Darwin, Samurai Musashi dll dengan menggunakan sebuah arlojij kuno.
penasaran? ayo buruan pinjam! tapi pinjam tidak lebih baik daripada membeli kok hehe.


seperti biasa, gue akan mengutip beberapa kalimat bagus. mungkin ini terlalu banyak. karena gue bener-bener suka ini novel. good job mbak Windhy!


“aku merasakan apa yang kau rasakan,”

“tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melawan dirimu sendiri,”

“jangan bilang kata kata yang baru saja keluar dari mulutmu memang berasal dari dirimu sendiri,”

“… permainan yang bagus bukan berasal dari skill. Permainan yang bagus berasal dari feel, dari perasaan. Music adalah tentang bagaimana kita menyapaikan perasaan kita kepada orang lain.”

“kita disebut berhasil memainkan music jika orang yang mendengar permainan music kita dapat merasakan apa yang kita rasakan,” katanya. “without touching us−tanpa menyentuh kita."

“wanita memang membingungkan,"

“hati-hati dengan apa yang kau inginkan,”

“man’s gotta do what a man’s gotta do.”

“manusia tidak bisa memilih takdirnya sendiri.”

“aku kalah,” kata lawannya sambil berusaha bediri. “kau memang lebih hebat dariku.”
“tidak,” jawab Indra. “kekuatan kita sama.”
Senior itu tersenyum sinis. “kau tidak perlu menghiburku, aku tidak membutuhkannya.”

“… apa yang diperbolehkan tidak selalu terhormat.”

Dani tertawa. “sepertinya aku jadi suka padamu.”
“terima kasih, tapi aku tidak.”
“belum,” ralat Dani.

“Apa pun yang kaulakukan,” mama tidak menoleh sedikit pun, “berhati-hatilah.”

“bingung dengan keputusan yang sudah diambil sendiri, kau pikir berapa umurmu?”

“jika kata-kataku salah, dia bisa membalasnya,”

“ceritanya panjang,” jawab dani
“kalau begitu persingkat,: kata pak Yunus sambil memanggil pelayan.
“kami bertemu preman,” jelas Dani.
“lalu?”
“bapak minta versi singkat, kan?” Balas Dani. “Itu versi singkatnya.”

you only have to look behind you, at who’s underlined you.

destroy everything you touch today, destroy  me this way,

“kalau kau lebih mengenalnya, kau akan tahu orang sebaik apa dia. Walau tampak dingin seperti itu, tapi sebenarnya dia adalah orang yang paling peduli pada sekelilingnya.”

Membaca pikiran lawan yang kalah adalah hal yang paling dihindarinya, karena dia tahu tidak pernah ada kata-kata bagus didalamnya.

“hentikan, kau membuat malu dirimu sendiri,” kata Indra dingin.
“jangan khawatir, kau tahu aku tidak peduli dengan pendapat orang lain,” jawab Dani sambil meringis.
“bukannya justru sebaliknya?” Indra mendesah. “karena kau peduli makanya kau suka melakukan hal-hal yang menarik perhatian orang lain?”

“dia marah karena ada orang yang menyakitimu,”

“kemampuan ini diberikan pada kita, aku yakin pasti ada alasannya.”

“.. what you see is what you get.”

“… karena buku tetap lebih valid daripada internet. …”

“diakui atau tidak, internet telah terbukti berperan besar dalam menyebarkan informasi yang keliru.”

“dia itu sangat melindungi orang-orang yang dia anggap penting dan menganggapnya penting,”

“pikiran adalah tempat paling pribadi seseorang. Tidak ada yang suka jika tempat pribadinya bisa dilihat orang lain.”

“dilindungi oleh orang yang justru lebih memerlukan perlindungan daripada aku. Aku ingin indra belajar untuk memikirkan dirinya sendiri.”

“orang-orang terdekatmu yang kauanggap penting, tidak menganggapmu sama pentingnya. Bahkan mereka menjauhimu karena takut padamu. Ketika akhirnya datang seseorang yang membalas perasaanmu, menganggapmu penting sebagaimana kau menganggapnya, apa yang kaulakukan?”
Riska mencoba berpikir
“aku akan melindunginya mati-matian,” katanya kemudian.
“karena…?” mama tersenyum.
Riska tertegun dan menatap mamanya.
“karena,” katanya. “jika tidak, aku takut tidak akan ada lagi yang tersisa.”

“benarkah tidak apa-apa mengajaknya?” Tanya Dani sambil memakai helm.
Indra mengangguk lalu menyalakan mesin motornya.
“karena kau pasti akan melindunginya, kan?” dani meringis.

“itu memang kemampuanmu,” kata Mama. “tapi yang ini, datangnya bukan dari tangan. Kemampuanmu ini datangnya dari hati.”

“berhati-hatilah”
Riska tersenyum. “jangan khawatir.”
“yah, setidaknya mama tahu ada orang yang akan melindungimu mati-matian,” jawab mama.

“dia tidak akan apa-apa karena kau akan melindunginya, kan?”

“kau ini mau bicara atau makan? Pilih salah satu,”

 “untuk menyelamatkan ayam yang disembunyikan oleh ular, kita harus masuk sarang ular,”

“kau mengakhawatirkan keselamatan kita?”
“tidak,” mata indra menatap lurus. “aku mengakhawatirkan keselamatan kalian.”

“penglihatanmu tajam juga, garcon.”
“begitu juga pendengaranmu,” balas indra.

“saat aku menyetujui kepergian bersama kami ke kota ini, dalam hati aku berjanji untuk melindungimu,” akunya.
“eh?” riska menatapanya.
“dan aku akan menepatinya.”

“tempat yang paling aman adalah tempat yang paling berbahaya,” jelas riska sambil mulai berjalan.

“penjahat yang pintar pasti menerapkan prisip membasuh muka dengan batu dan tidur beralaskan air.”

“don’t cry, I’m okay” kata Dani pelan. “I’m okay.”

“setiap barang yang dibuat manusia, pasti tidak ada yang sempurna,”

“apa kalian tahu, lie detector bisa diakali dengan menusukkan jarum ke jempol kita? Lie detector mendeteksi penyimpangan denyut nadi, dan rasa sakit akibat tertusuk jarum cukup ampuh untuk mengelabuinya.”

“… pihak pertama adalah pihak yang menginginkan kebenaran itu terungkap dan pihak kedua sebaliknya, tidak ingin kebenaran itu terungkap.”

“tapi bagaimana kita bisa mencari vila yang ‘benar’?” dani menyandarkan kepalanya ke kursi. “seperti mencari jarum ditumpukan jerami.”
“more than that,” sahut pak Yunus. “ini seperti mencari jarum yang ‘benar’ di antara tumpukan jarum. Karena jarum dan jerami memiliki bentuk berbeda.”

“… setiap kali mereka menyelesaikan suatu kasus, mereka selalu berpikir out of the box.”

“… sebagian besar manusia mencari setinggi pandangan matanya saja. Mereka jarang mencari diatas pandangan, karena ‘biasanya’ tidak begitu. Itulah yang dinamakan berpikir out of the box.”

“mungkin, hal yang kita pikir bisa dijadikan petunjuk berdasar pengalaman malah tidak bisa diandalkan sama sekali. Sebaliknya, hal tidak terpikirkan atau bahkan terlewatkan malah merupakan petunjuk yang berharga …”

“… pikiran adalah hal paling pribadi dari manusia bahkan cerminan hati … "

“saya percaya manusia itu hidup demi manusia yang lain. Kita jadi lebih kuat jika menyangkut orang yang penting bagi kita. Bapak juga percaya itu, kan? Itu sebabnya Bapak menyandera Riska, karena Bapak tahu saya akan melakukan apa pun untuknya.”
Indra menatap Riska lalu tersenyum. “terima kasih.”

“… what is food is to others bitter posion …”

“… dalam a study in scarlet, Sherlock holmes pernah bilang bahwa otak manusia seperti loteng kecil dengan banyak barang didalamnya. Jadi jika kita bilang kita lupa, sebenarnya tidak sepenuhnya lupa, hanya saja kenangan itu tertumpuk di bawah kenangan-kenangan lain, atau mungkin di dalam laci di loteng yang juga sudah tertimbun dengan barang-barang lain …”

“… mind reader adalah pedang, empathy adalah sarungnya. Dia yang berperan mengontrol kemampuan mind reader …”

“… track finder-lah yang bertugas mempertemukan empathy dan mind reader, sarung dan pedangnya

“… mestinya kau ingat, di dunia ini tidak ada orang yang benar-benar baik.”
“dan sebaliknya tidak ada orang yang benar-benar jahat,"



“All is riddle and the key to a riddle is another riddle.”
Ralph Waldo Emerson


 
“Some of the best lessons are learned from past mistakes.
The error of the past is the wisdom of the future.”
Dale Turner